Halaman

Senin, 20 Mei 2019

Mendaki Gunung Salak Bersama Keluarga

Liburan sekolah menjelang kuliah seringkali di manfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti tamasya ataupun kegiatan lainnya. Demikian juga yang dilakukan oleh keluargaku dari Depok, yaitu: Febri, Ria, Dhea, Monic, Chakra, dan aku sendiri Yoga

Semua berawal dari ajakan aku sejak kecil ingin mencari pengalaman baru, untuk mendaki gunung, benar gunung bukan bukit lhoo ya. Kami sekeluarga memutuskan untuk mendaki Gunung salak, dan berangkat tanggal 7-9 Mei 2016 lalu.

Pertama kami kumpul di rumahku, seminggu sebelum kita tentukan tanggal untuk keberangkatan, kami sibuk mempersiapkan segala hal mulai dari logistic, kelengkapan, informasi cuaca, dsb. Yang tidak pnya peralatan meminjam, adapula yang rela menabung untuk keperluan dalam mendaki tersebut. Setelah semuanya sudah kumpul kemudian kita checking lagi barang bawaan; seperti peralatan mandi, tenda, maupun perlengkapan pribadi setiap individu, setelah semua beres kita lanjut berdo’a bersama untuk berangkan menuju taman nasional halimun salak.

Kami memulai perjalanan kurang lebih jam 09:00, tranportasi kami bagi 2. Untuk peempuan menggunakan mobil, dan saya dengan Chakra menggunakan vespa. Setelah 4 jam perjalanan akhirnya kami sampai di taman nasional halimun salak. Yang akan kami lewati untuk mendaki adalah jalur pasir reungit, agar sampai kesana kami harus melawati trek bebatuan, dan tanjakkan terjal sekali. Sesampainya di sana , kami mendapat pengarahan singkat dari tim SAR disana, sekalian kita mengurus pendaftaran atau simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).

Kami semua memutuskan untuk mendaki setelah waktu ashar, jam 16.00. sebelum kami memulai perjalanan, kami melakukan do’a dahulu agar semua yang kita lakukan sampai 3 hari kedepan tidak terjadi apa – apa, dan selalu dalam lindunganNYA. Ketika 10 menit pertama kami mendaki si Dhea terlihat pucat, dan kami memberi aba - aba agar semua berhenti, setelah itu kita buat dia rileks dan kami beri makanan sejenis coklelat agar staminanya kembali lagi, maklum kami semua pemula jadi kaget – kaget dikit kalau harus berjalan di medan bebatuan dan menanjak seperti ini. Perjalana pertama jalan sudah berbatu, sedikit landau, dan banyak nanjaknya heheh. Hingga kita bertemu dengan persimpangan. Kalian dapat memilih kanan untuk mengikuti jalur bebatu, ataupun lurus untuk melewati air terjun. Setelah 4 jam lamanya kami berjalan kami mencium bau belerang yang menandakan bahwa kami dekat atau berada di kawah ratu, ya benar saja. Akhirnya kami mudur kurang 100m kebelakang untuk mencari spot untuk mendirikan tenda. Masing – masing individu di melakukan tugasnya sendiri, ada yang mendirikan tenda, mempersiapkan makan malam, ada yang membenahi peralata, dsb. Setelah tendanya selesai terpasang, makan malam pun sudah tersaji kami bercengkrama, bersua, saling sharing di dalam tenda walaupun terkadang ada yang diluar untuk menghirup udara segar. Di saat itupun kami semua membahas apa kegiatan esok pagi, ya semua ingin melanjutkan pendakian ini sampai ke puncak gunung salak.

Besok harinya, beberapa orang bangun lebih awal pukul 06:00, beberapanya pun masih lelap tertidur. Kemudian kami bangunkan mereka yang masih tertidur, setelah semuanya sudah di pastikan bangun kami semua melihat lokasi kawah ratu yang kebetulan dekat dengan lokasi tenda kami. Ucapan kalimat syukur terhadap semua ini terus bergumam di bibir kita semua. Setelah kiranya sudah cukup memanjakan mata, sekitar jam 06:30 kita packing untuk melanjutkan perjalanan dan sekalian sarapan pagi. Saya dan chakra merapihkan tenda dan perempuannya merapihkan carrier serta membuat makanan untu sarapan pagi. Pukul 08:30 kami sudah beberes semuanya. Kamipun berdo’a untuk melanjutkan perjalanan, setelah 1 jam kami berjalan dan beberapa teman masih tertinggal jauh, saya dan chakra menunggu di bukit setelah kawah ratu dan melihat medan yang telah kami lalui, wah gila sih parah! Di samping itu sepatu saya, dan dhea mengalami masalah, yaitu jebol. Setelah semua kumpul semua, kami mengambil keputusan yang baik dan tepat. Akhirnya pukul 13:00 kami mengambil kesimpulan untuk berhenti, tidak melanjutkan perjalanan ke puncak gunung salah. Bersamaan dengan itu, kami sekalian turun bergerylia, merayap turun perlahan dengan kaki saya tanpa sepatu, dan Dhea tetap menggunakan sepatunya yang jebol. Hendak berhenti sejenak di kawah ratu untuk kembali berfoto – foto, setelah itu melanjutkan perjalan lagi sambil sesekali berhenti untuk rehat sejenak dan pastinya tak luput berfoto – foto.

Setelah 3 jam perjalanan melewati bebatuan dan medan yang berat, seperti pohon tumbang, berjalan di bibir jurang. sesampainya di pos pendaftaran sekitar jam 16:00 WIB kami langsung melakukan shalat, selepas shalat kami beristirahat sejenak, dan mengobrol tentang gunung salak dengan orang setempat. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 17:00 akhirnya kami bergegas untuk pulang kerumah masing – masing.


Ragil Yoga Mahendra

Rabu, 24 April 2019

Pendakian Gunung Ciremai

Jum'at, 19 April 2019.

Ku tarik nafas dalam dalam, menikmati bersihnya udara di kaki gunung Ciremai. Ya, tepat pada hari ini saya dan 3 kawan saya (Harold, Ebong, Ilham) berada di Kuningan. Kami berencana untuk mendaki gunung Ciremai dikala waktu senggang kami yang saat itu bertepatan dengan hari libur 'Wafat Isa Almasih'. Kami sampai basecamp Ciremai via jalur Palutungan pukul 6 pagi. Terlihat gunung Ciremai yang gagah namun malu untuk menampakkan dirinya. Sembari menunggu kabut yang tebal menyelimuti Gunung Ciremai, kami memutuskan untuk mengisi perut kami khas nasi ala Kuningan sebelum melaksanakan pendakian. Tak disangka, hujan mengguyur kami dengan derasnya. Sempat terpikir "apakah ini akan jadi perjalanan yang buruk?". Namun 3 teman saya yang baru pertama kali menanjak sangat optimis dan ingin sekali melihat seperti apa berada di puncak gunung. Selesai makan, hujan mereda. Kita keluarkan ponco dari dalam tas guna melawan gerimis di kala pendakian. Setelah itu, kita langsung berdoa dan melakukan pendakian.

Start pendakian dari basecamp pukul 08.15 WIB. Perjalanan masih lancar lancar saja. Kita masih melewati rumah warga, lalu ke perkebunan warga disana dan sampailah ditugu selamat datang Gunung Ciremai. Tanpa berfoto kita langsung melanjutkan perjalanan. Track sudah mulai sedikit menanjak. Belum lama kita berjalan muncul lagi pos ucapan selamat datang. Lalu kami istirahat bentar untuk minum dan membakar rokok. Kami melanjutkan perjalanan sembari merokok dikala hujan. Betapa nikmatnya rasa kehidupan saat itu.

Setelah 30 menit berjalan, kita sempat rest dan duduk duduk dikarenakan perut saya yang terasa sangat perih. Posisi nya saya sedang duduk bersama 2 teman saya di belakang, dan didepan saya teman saya satu duduk sendiri dan misah dengan kita. Setelah meminum obat maag saya dikagetkan oleh teman saya yang tiba tiba teriak "WHAAAAAA" dengan sangat kencangnya. Rupanya ia dihampiri oleh Lutung. Kami tertawa lepas saat itu dan kami baru sadar jika kami berada di kawasan habitat Lutung. Setelah perut saya enak kembali, kami pun melanjutkan. 15 menit kemudian kita sempat berhenti sebentar untuk memfoto keadaan saat itu. Kami berada di track yang tepat di kiri kami langsung menuju jurang yang cukup dalam. Lalu terlihat goa disana, terlihat seram namun keren dikarenakan atmosfer kala itu seperti dalam film horror. Ketika saya lagi melihat sekitar, saya dikagetkan oleh teman saya yang tiba tiba istighfar. Saya bertanya dengan sedikit rasa panik. Lalu ia menunjuk menggunakan matanya ke tumbuhan di depan kami. Saya merasakan kala itu tidak ada angin. Namun terlihat tumbuhan depan kami bergerak seperti orang sedang berdzikir. Namun tumbuhan di sekitarnya diam. Teman saya pun langsung mendokumentasikan momen ini dan mengucap permisi.



Kami melanjutkan perjalanan kembali. Dan sampai pos 1 pukul 10.45 WIB. Sungguh panjang track dari basecamp menuju pos 1 yang di dominasi oleh tanjakan dan turunan. Kami istirahat bentar dan makan roti. Lalu kami melanjutkan perjalanan, tidak lama kami berjalan ternyata kami sudah melewati pos 2. Jarang yang relatif dekat dari pos 1 dan pos 2. Kami terus melanjutkan perjalanan hingga sampai di pos 3 saat dzuhur. Kami menggelar terpal untuk rebahan dan melaksanakan ibadah. Kami masak pop mie dan menawari pendaki yang lewat untuk bergabung. Kami bercerita dengan banyak pendaki dan karena kami baru pertama kali mendaki ke Ciremai kami di ingatkan untuk tidak camp di pos 4. Lalu kami melanjutkan perjalanan kembali pukul 13.30 WIB. Perjalanan sudah mulai menanjak yang membuat dengkul gemetar. Track nya pun cukup jauh yang membuat kami kelelahan. Harapan kami ngecamp di Goa Walet (Pos 8) gagal total.

Kami lalu berencana camp di pos 5. Lalu kami melanjutkan perjalanan dan sampai di pos 4 jam 15.40 WIB. Sempat ingin rest namun saya melihat plang bahwa jarak tempuh ke pos 5 adalah 30 menit dari pos 4. Lalu kami pun memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan. Rupanya 30 menit itu relatif karena kami sampai setelah 45 menit berjalan. Langsung kami mencari lahan untuk mendirikan tenda kami. Ahh home sweet home. Setelah mendirikan tenda, kami merokok dan ngemil lalu tertidur karena kecapean. Malam nya saya dan Harold terbangun dan memasak untuk masak malam, lucu nya setelah makan malam pun kami bisa kembali tertidur.

Sabtu, 20 April 2019.

Kami tertidur pulas dan bangun jam 05.30 WIB. Rencana summit pukul 02.00 pun gagal. Kami langsung memasak untuk sarapan dan start summit pukul 07.30, sangat melenceng jauh dari plan. Di pos 6 kami melewati banyak tenda yang rusak karena babi babi hutan kelaparan. Lalu setelah cukup jauh perjalanan kami sampai di simpang Palutungan dan Apuy. Ramai sekali pendaki dari Jalur Apuy. Pukul 10.15 kami sudah sampai pos Goa Walet, 30 menit lagi menuju puncak. Kami pun istirahat, makan roma kelapa dan roti yang saya bawa dan mengisi air di botol kosong yang memang sudah kami siapkan untuk diisi di pos 8. Air disini keruh namun terasa seperti es kelapa saya pun tidak mengerti, mungkin karena saya suggest kangen jajanan es di kota.

Kami melanjutkan perjalanan dan sampai di puncak jam 12 kurang. Terlihat samudera awan yang sangat indah di puncak Ciremai (3078mdpl). Dikala Harold sujud syukur, Ebong dan Ilham mendokumentasikan pemandangan seperti sedang ngevlog saya sangat tersentuh dengan ciptaan Sang Kuasa. Kami berfoto foto, dan menikmati suasana di puncak hingga saat kami turun terdapat kabut yang sangat tebal menghalangi track turun kami. Kami pun menunggu 30 menit lalu kabut sudah tidak setebal tadi dan kami berencana turun dengan rombongan pendaki lain. Kami sampai kembali ke tenda pukul 14.00 dan langsung tertidur. Bangun bangun kita melihat logistik tidak cukup untuk ngecamp hingga hari esok. Kami masak dan langsung beberes untuk melanjutkan perjalanan turun. Kami begitu panik lalu saya menyuruh Ebong untuk bilang gabung pendaki tenda sebelah yang ingin turun juga. Dari kami ber-empat senter kami yang menyala cuma 2 buah. Wah saya merasa aman turun bersama rombongan pendaki sebelah. Kami berdoa bersama dan langsung turun dikarenakan hari yang kian gelap. Kami berangkat pukul 18.30 dan sampai di pos 3 pukul 19.30. 

Ketika sedang istirahat kami dikagetkan dengan suara perempuan nangis. Suaranya sangat besar nan melengking tingi, tidak seperti orang menangis biasanya. Lalu ketua rombongan itu bilang "biasa lah kearifan lokal". Dan disini lah kami baru berkenalan. Ternyata mereka adalah mapala itera. Orang nya lucu lucu dan mereka memberi kami stiker mapala itera sebagai kenang kenangan. Kami pun melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan dari pos 3 menuju pos 1 kami sungguh ramai. Bukan ramai pendaki namun ramai suara. Di kiri kami terdapat suara gamelan, suara seperti konser dangdut yang kami kira berasal dari pos 1. Sesampainya pos 1, ternyata sepi. Kami cukup bingung dengan kejadian tersebut, dan kalau dipikir dari desa. Jarak ke desa pun masih sangat jauh. Di pos 1 kami istirahat cukup lama dan melanjutkan kembali perjalanan menuju basecamp pukul 21.30. Setelah sampai di pos selamat datang 2, rombongan kami pun ada yang kesurupan 2 orang. Sungguh menarik, seperti di film film namun rasa takut pun tetap menyelimuti kita. Ketika sedang dibacakan ayat suci orang kesurupan tersebut dengan mimik nya yang seperti orang ketawa namun kesakitan ia langsung menutup kupingnya menggunakan tangannya. Sungguh pemandangan yang luar biasa menurut saya. Ini seperti di film film. Kami lama menunggu mereka menetralisir orang kesurupan tersebut hingga kami disuruh turun duluan oleh ketua rombongan mapala itera, dan disuruh menemani pendaki perempuan nya duluan ke basecamp. Kami meng-iyakan hal tersebut lalu langsung turun ke basecamp.

Minggu, 21 April 2019.


Kami sampai basecamp pukul 01.30 WIB. Lalu langsung mengistirahatkan badan kami yang sangat lelah. Lalu pagi nya kami bertemu dua pendaki yang berasal dari Depok juga dan berencana pulang bareng. Lalu kami mencarter angkot dari basecamp pukul 06.00 dan langsung ke kota dan dapat bus menuju depok pukul 07.30 WIB. Jam 10.00 WIB pun kami sudah sampai di rumah Ebong. Dan kami memutuskan untuk langsung pulang ke rumah masing masing.

Abhista Ramadhan

Sabtu, 20 April 2019

Pertama Kali Naik Gunung



Pengalaman saya mendaki gunung merbabu menjadi pengalaman pertama saya bersama teman teman saya. Saya sangat penasaran dan takut karena baru pertama kali, apalagi posisinya saya perempuan sendiri. Capek, seneng, tapi capeknya terbayarkan sih, walaupun gak sampe ke puncak, karena Waktu itu saya rasanya udah lemes banget, dan gak pernah ngebayangin kalau mendaki tuh akan seperti itu, susah nya mendaki track yang curam, haus selama perjalanan. Apalagi saat itu sedang musim kemarau jadi rasanya matahari ada di atas kepala banget. Tapi ada yang bikin semangat karena saya liat banyak cewek cewek yang kuat jadi ada rasa pengen juga gitu,saya juga berfikir sayang kalau tidak sampai puncak, tapi apadaya kondisi badan yang tidak mendukung. Next time sih pengen coba lagi naik gunung, dan berharap bisa sampai puncaknya.

Sukma Octaviani