Jum'at, 19 April 2019.
Ku tarik nafas dalam dalam, menikmati bersihnya udara di kaki gunung Ciremai. Ya, tepat pada hari ini saya dan 3 kawan saya (Harold, Ebong, Ilham) berada di Kuningan. Kami berencana untuk mendaki gunung Ciremai dikala waktu senggang kami yang saat itu bertepatan dengan hari libur 'Wafat Isa Almasih'. Kami sampai basecamp Ciremai via jalur Palutungan pukul 6 pagi. Terlihat gunung Ciremai yang gagah namun malu untuk menampakkan dirinya. Sembari menunggu kabut yang tebal menyelimuti Gunung Ciremai, kami memutuskan untuk mengisi perut kami khas nasi ala Kuningan sebelum melaksanakan pendakian. Tak disangka, hujan mengguyur kami dengan derasnya. Sempat terpikir "apakah ini akan jadi perjalanan yang buruk?". Namun 3 teman saya yang baru pertama kali menanjak sangat optimis dan ingin sekali melihat seperti apa berada di puncak gunung. Selesai makan, hujan mereda. Kita keluarkan ponco dari dalam tas guna melawan gerimis di kala pendakian. Setelah itu, kita langsung berdoa dan melakukan pendakian.
Start pendakian dari basecamp pukul 08.15 WIB. Perjalanan masih lancar lancar saja. Kita masih melewati rumah warga, lalu ke perkebunan warga disana dan sampailah ditugu selamat datang Gunung Ciremai. Tanpa berfoto kita langsung melanjutkan perjalanan. Track sudah mulai sedikit menanjak. Belum lama kita berjalan muncul lagi pos ucapan selamat datang. Lalu kami istirahat bentar untuk minum dan membakar rokok. Kami melanjutkan perjalanan sembari merokok dikala hujan. Betapa nikmatnya rasa kehidupan saat itu.
Setelah 30 menit berjalan, kita sempat rest dan duduk duduk dikarenakan perut saya yang terasa sangat perih. Posisi nya saya sedang duduk bersama 2 teman saya di belakang, dan didepan saya teman saya satu duduk sendiri dan misah dengan kita. Setelah meminum obat maag saya dikagetkan oleh teman saya yang tiba tiba teriak "WHAAAAAA" dengan sangat kencangnya. Rupanya ia dihampiri oleh Lutung. Kami tertawa lepas saat itu dan kami baru sadar jika kami berada di kawasan habitat Lutung. Setelah perut saya enak kembali, kami pun melanjutkan. 15 menit kemudian kita sempat berhenti sebentar untuk memfoto keadaan saat itu. Kami berada di track yang tepat di kiri kami langsung menuju jurang yang cukup dalam. Lalu terlihat goa disana, terlihat seram namun keren dikarenakan atmosfer kala itu seperti dalam film horror. Ketika saya lagi melihat sekitar, saya dikagetkan oleh teman saya yang tiba tiba istighfar. Saya bertanya dengan sedikit rasa panik. Lalu ia menunjuk menggunakan matanya ke tumbuhan di depan kami. Saya merasakan kala itu tidak ada angin. Namun terlihat tumbuhan depan kami bergerak seperti orang sedang berdzikir. Namun tumbuhan di sekitarnya diam. Teman saya pun langsung mendokumentasikan momen ini dan mengucap permisi.
Kami melanjutkan perjalanan kembali. Dan sampai pos 1 pukul 10.45 WIB. Sungguh panjang track dari basecamp menuju pos 1 yang di dominasi oleh tanjakan dan turunan. Kami istirahat bentar dan makan roti. Lalu kami melanjutkan perjalanan, tidak lama kami berjalan ternyata kami sudah melewati pos 2. Jarang yang relatif dekat dari pos 1 dan pos 2. Kami terus melanjutkan perjalanan hingga sampai di pos 3 saat dzuhur. Kami menggelar terpal untuk rebahan dan melaksanakan ibadah. Kami masak pop mie dan menawari pendaki yang lewat untuk bergabung. Kami bercerita dengan banyak pendaki dan karena kami baru pertama kali mendaki ke Ciremai kami di ingatkan untuk tidak camp di pos 4. Lalu kami melanjutkan perjalanan kembali pukul 13.30 WIB. Perjalanan sudah mulai menanjak yang membuat dengkul gemetar. Track nya pun cukup jauh yang membuat kami kelelahan. Harapan kami ngecamp di Goa Walet (Pos 8) gagal total.
Kami lalu berencana camp di pos 5. Lalu kami melanjutkan perjalanan dan sampai di pos 4 jam 15.40 WIB. Sempat ingin rest namun saya melihat plang bahwa jarak tempuh ke pos 5 adalah 30 menit dari pos 4. Lalu kami pun memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan. Rupanya 30 menit itu relatif karena kami sampai setelah 45 menit berjalan. Langsung kami mencari lahan untuk mendirikan tenda kami. Ahh home sweet home. Setelah mendirikan tenda, kami merokok dan ngemil lalu tertidur karena kecapean. Malam nya saya dan Harold terbangun dan memasak untuk masak malam, lucu nya setelah makan malam pun kami bisa kembali tertidur.
Sabtu, 20 April 2019.
Kami tertidur pulas dan bangun jam 05.30 WIB. Rencana summit pukul 02.00 pun gagal. Kami langsung memasak untuk sarapan dan start summit pukul 07.30, sangat melenceng jauh dari plan. Di pos 6 kami melewati banyak tenda yang rusak karena babi babi hutan kelaparan. Lalu setelah cukup jauh perjalanan kami sampai di simpang Palutungan dan Apuy. Ramai sekali pendaki dari Jalur Apuy. Pukul 10.15 kami sudah sampai pos Goa Walet, 30 menit lagi menuju puncak. Kami pun istirahat, makan roma kelapa dan roti yang saya bawa dan mengisi air di botol kosong yang memang sudah kami siapkan untuk diisi di pos 8. Air disini keruh namun terasa seperti es kelapa saya pun tidak mengerti, mungkin karena saya suggest kangen jajanan es di kota.
Kami melanjutkan perjalanan dan sampai di puncak jam 12 kurang. Terlihat samudera awan yang sangat indah di puncak Ciremai (3078mdpl). Dikala Harold sujud syukur, Ebong dan Ilham mendokumentasikan pemandangan seperti sedang ngevlog saya sangat tersentuh dengan ciptaan Sang Kuasa. Kami berfoto foto, dan menikmati suasana di puncak hingga saat kami turun terdapat kabut yang sangat tebal menghalangi track turun kami. Kami pun menunggu 30 menit lalu kabut sudah tidak setebal tadi dan kami berencana turun dengan rombongan pendaki lain. Kami sampai kembali ke tenda pukul 14.00 dan langsung tertidur. Bangun bangun kita melihat logistik tidak cukup untuk ngecamp hingga hari esok. Kami masak dan langsung beberes untuk melanjutkan perjalanan turun. Kami begitu panik lalu saya menyuruh Ebong untuk bilang gabung pendaki tenda sebelah yang ingin turun juga. Dari kami ber-empat senter kami yang menyala cuma 2 buah. Wah saya merasa aman turun bersama rombongan pendaki sebelah. Kami berdoa bersama dan langsung turun dikarenakan hari yang kian gelap. Kami berangkat pukul 18.30 dan sampai di pos 3 pukul 19.30.
Ketika sedang istirahat kami dikagetkan dengan suara perempuan nangis. Suaranya sangat besar nan melengking tingi, tidak seperti orang menangis biasanya. Lalu ketua rombongan itu bilang "biasa lah kearifan lokal". Dan disini lah kami baru berkenalan. Ternyata mereka adalah mapala itera. Orang nya lucu lucu dan mereka memberi kami stiker mapala itera sebagai kenang kenangan. Kami pun melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan dari pos 3 menuju pos 1 kami sungguh ramai. Bukan ramai pendaki namun ramai suara. Di kiri kami terdapat suara gamelan, suara seperti konser dangdut yang kami kira berasal dari pos 1. Sesampainya pos 1, ternyata sepi. Kami cukup bingung dengan kejadian tersebut, dan kalau dipikir dari desa. Jarak ke desa pun masih sangat jauh. Di pos 1 kami istirahat cukup lama dan melanjutkan kembali perjalanan menuju basecamp pukul 21.30. Setelah sampai di pos selamat datang 2, rombongan kami pun ada yang kesurupan 2 orang. Sungguh menarik, seperti di film film namun rasa takut pun tetap menyelimuti kita. Ketika sedang dibacakan ayat suci orang kesurupan tersebut dengan mimik nya yang seperti orang ketawa namun kesakitan ia langsung menutup kupingnya menggunakan tangannya. Sungguh pemandangan yang luar biasa menurut saya. Ini seperti di film film. Kami lama menunggu mereka menetralisir orang kesurupan tersebut hingga kami disuruh turun duluan oleh ketua rombongan mapala itera, dan disuruh menemani pendaki perempuan nya duluan ke basecamp. Kami meng-iyakan hal tersebut lalu langsung turun ke basecamp.
Minggu, 21 April 2019.
Kami sampai basecamp pukul 01.30 WIB. Lalu langsung mengistirahatkan badan kami yang sangat lelah. Lalu pagi nya kami bertemu dua pendaki yang berasal dari Depok juga dan berencana pulang bareng. Lalu kami mencarter angkot dari basecamp pukul 06.00 dan langsung ke kota dan dapat bus menuju depok pukul 07.30 WIB. Jam 10.00 WIB pun kami sudah sampai di rumah Ebong. Dan kami memutuskan untuk langsung pulang ke rumah masing masing.
Abhista Ramadhan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar